Senin, 15 September 2008

Serba-serbi Wawancara dengan Mahfuz

Dalam satu kesempatan tatap muka dengan Najib Mahfuz, Nadine Gordimer - penerima Nobel sastra tahun 1991- menyebutkan bahwa Mahfuz merupakan salah satu bakat kreatif terbesar dalam khasanah novel dunia. Komite Nobel Sastra pun menyatakan, "Posisi Najib Mahfuz sebagai juru bicara prosa Arab tak tersaingi oleh siapa pun. Dia berhasil mencapai standar keunggulan internasional melalui karya-karyanya yang berisi potret tradisi Arab klasik, inspirasi Eropa, sampai gaya artistik individual.”

Najib Mahfuz menerima Nobel Sastra tahun 1988. Melalui 41 karya (yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa), Mahfuz disebut-sebut telah memperkaya peradaban manusia, baik di negerinya maupun secara global. Hal paling menakjubkan seputar Mahfuz terletak pada ketekunan, disiplin, dedikasi, dan kerja kerasnya selama lebih dari setengah abad. Ini pun ditegaskan juga oleh seorang profesor Sastra Prancis sekaligus kritikus sastra asal Mesir Amina Rachid, “Selain seluruh prestasinya, kekaguman saya akan Mahfuz terletak pada dua hal, kerja keras dan ketekunannya.”

Mahfuz meninggal dunia pada tanggal 30 Agustus 2006 setelah sempat dirawat selama beberapa hari di rumah sakit. Roger Allen - seorang profesor sastra Arab dari Pensylvania University sekaligus penerjemah beberapa karya Mahfuz - berkata dengan sedih, “Hari yang kita takutkan akhirnya tiba. Najib Mahfuz, seorang sastrawan Mesir yang luar biasa, penerima Nobel Sastra tahun 1988, novelis, intelektual, humanis, seorang yang beriman, dan selalu menunjukkan keramahannya, telah pergi dari kehidupan kita. Dia telah berada di kedamaian abadi, Allah yarhamuh.” Meski demikian, seseorang penulis besar tak akan pernah mati. Tulisan-tulisannya akan terus dikaji. Sosoknya akan terus dikenang. Kata-katanya akan terus bergema menembus batasan ruang dan waktu persis seperti ucapan seorang sastrawan Indonesia, Pramudya Ananta Toer, “Menulislah, karena dengan menulis kau mencipta keabadian.”

Untuk mengenang satu tahun wafatnya Mahfuz, Muallaqat Forum Jogjakarta berinisiatif mengumpulkan sejumlah wawancara media maupun personal bersama Najib Mahfuz. Sebagian besar materi wawancara diperoleh melalui situs surat kabar di Mesir, Al-Ahram. Sisanya dikompilasikan dari situs-situ lain serta kontribusi beberapa kolega (www.al-ahramweekly.org dan www.nobel.org).

Kompilasi kutipan wawancara dibagi ke dalam beberapa kategori, antara lain: kesusastraan, proses kreatif, pencapaian, agama, serta kemanusiaan. Kompilasi ini diharapkan dapat berguna bagi pada pengkaji, peminat, dan penikmat kesusastraan Arab dalam menyelami pemikiran Najib Mahfuz tak hanya sebatas tulisan-tulisannya, tapi juga gagasan-gagasan lisan. Selamat membaca!




TENTANG NOBEL

Berikut ini adalah petikan wawancara Muhammad Salmawy (editor sastra surat kabar Al-Ahram, Mesir) dengan Mahfuz seputar kesan-kesannya setelah menerima Nobel Sastra tahun 1988.

Salmawy: Apa yang mendorong Anda menjadi penulis dan siapa saja yang menginspirasikan karier Anda?

Mahfuz: Saya mulai menulis ketika masih sekolah. Saya terinspirasi oleh para penulis Arab kontemporer seperti El-Manfalouti, Taha Hussein, dan El-Aqqad. Mereka seolah mengalirkan gairah menulis pada saya. Oleh karena itu, saat duduk di bangku di sekolah menengah, saya memutuskan pindah dari kelas IPA ke kelas sastra.
Salmawy: Apa yang Anda rasakan begitu mengetahui bahwa Anda memperoleh Nobel Sastra?

Mahfuz: Saya merasa sangat bahagia sekaligus terkejut. Saya tak pernah menyangka akan mendapatkannya. Selama ini Nobel selalu diberikan pada para penulis kaliber, seperti Anatole France, Bernard Shaw, Ernest Hemingway, William Faulkner, Jean-Paul Sartre dan Albert Camus. Saya juga pernah mendengar bahwa suatu saat nanti seorang penulis Arab akan memperoleh Nobel, tapi saya meragukannya.
Salmawy: Bukankah pada sebuah wawancara televisi Abbas Mahmoud El-Aqqad pernah mengatakan bahwa Anda layak menerimanya? Padahal wawancara itu terjadi 20 tahun lalu.

Mahfuz: El-Aqqad terlalu berlebihan.

Salmawy: Apakah pencapaian Nobel berpengaruh terhadap kehidupan dan karya-karya Anda berikutnya?

Mahfuz: Ya. Nobel semakin mengukuhkan tekad saya untuk terus menulis. Tapi sayang saya menerimanya di akhir karier kepenulisan saya. Buku yang saya rampungkan sejak menerima Nobel hanya Echoes of an Autobiography. Saat ini saya tengah menyelesaikan Dreams of Recuperation. Novel Qushtumur, yang dimuat secara berseri di Al-Ahram, saya rampungkan sebelum mendapatkan penghargaan itu kemudian diterbitkan dalam bentuk buku setelah memenangkan Nobel. Meski demikian, Nobel bagi saya telah membentuk gaya hidup baru yang belum pernah saya jalani dan tak pernah saya bayangkan. Saya harus menghadiri banyak wawancara dan pertemuan yang diadakan oleh media. Saya sebenarnya memilih bekerja dalam ketenangan.

Salmawy: Secara umum, apa pengaruh karya-karya Anda pada kesusastraan Mesir setelah Anda memenangkan Nobel?

Mahfuz: (tertawa) Pertanyaan ini seharusnya Anda ajukan pada para kritikus. Hanya mereka yang berhak apakah karya-karya saya mempengaruhi kesusastraan Arab atau tidak. Tapi barangkali salah satu efeknya adalah makin banyak karya sastra Arab yang diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Saya mengetahui hal ini dari seorang tamu Rusia, juga dari orang-orang Jerman yang berkunjung ke Mesir sekaligus mengundang saya menghadiri Frankfurt International Book Fair yang tengah dipersiapkan.

TENTANG SASTRA, PENCEKALAN KARYA, DAN KARIER DI DUNIA FILM

Salmawy: Dalam kehidupan modern sering terlontar anggapan bahwa kesusastraan memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan sains. Dengan kata lain, kesusastraan adalah hal minor, sesuatu yang tidak diperlukan oleh banyak orang.

Mahfuz: Tidak bisa disangkal jika dikatakan bahwa status novelis mengalami kemunduran. Ini merupakan fenomena yang sangat disayangkan. Kesusastraan adalah sesuatu yang sangat vital dan tak bisa digantikan oleh sains atau apapun. Fungsi sastra dalam suatu masyarakat hanya bisa diisi oleh sastra itu sendiri. Tidak mungkin ada masyarakat yang hidup tanpa itu. Jika Anda mengamati kehidupan masyarakat primitif, Anda bisa menemukan kesusastraan walaupun mereka buta huruf. Di pedesaan, masyarakat berkumpul mengelilingi seorang pendongeng untuk mendengarkan berbagai cerita rakyat seputar kepahlawanan. Saya tidak bisa membayangkan kehidupan manusia tanpa kesusastraan. Perubahannya hanya terletak pada media penyampainya, yaitu dari lisan ke era tulisan.

Salmawy: Lalu apa arti sastra bagi seseorang? Banyak orang yang sepanjang hidupnya tak pernah membaca novel dan mereka tak merasa ada sesuatu yang kurang.

Mahfuz: Manusia bukan hanya tubuh. Manusia adalah susunan dari jiwa, kesadaran, dan pikiran. Manusia tidak hanya hidup dari makanan. Akses terhadap kesusastraan tidak tertutup hanya karena orang yang tak suka atau tak bisa membaca. Barangkali secara oral atau visual seperti yang terjadi dalam film. Kesusastraan sangat penting bagi kehidupan manusia karena memperhalus pribadi mereka. Kesusastraan menyumbangkan nilai yang tak bisa disumbangkan oleh dunia ekonomi, politik, atau sains. Aristoteles mengatakan bahwa kesusastraan memiliki pengaruh luar biasa pada jiwa manusia yang disebutnya katarsis. Kesusastraan membersihkan manusia, memperhalus perasaannya, dan memberikan kehormatan padanya.

Salmawy: Bagaimana dengan kejeniusan literer? Apakah itu sebuah fenomena khusus?

Mahfuz: Mari kita bicara tentang kreativitas literer ketika kejeniusan merupakan langkah maju. Hal yang membedakan penulis dengan orang kebanyakan adalah rasa sensitif. Empati penulis terhadap sekelilingnya lebih besar jika dibandingkan dengan orang lain. Selain itu, mereka juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Contohnya saja jika kita semua melihat bulan, para penulis akan tergerak untuk menulis puisi tentangnya yang takkan pernah dirasakan jika hanya sebatas mengamati.

Salmawy: Mengenai novel Aulad Haratina. Benarkah novel tersebut dicekal oleh Al-Azhar atau Anda memang sengaja tidak menerbitkannya?

Mahfuz: Awalnya, novel itu dimuat secara bersambung di Al-Ahram sekitar tahun 1959 yang memicu reaksi keberatan dari beberapa ulama Al-Azhar. Tapi, Muhammad Husenain Haikal, editor Al-Ahram, bersikeras tetap menerbitkan seluruhnya. Setelah itu barulah Hasan Sabri El-Khali memanggil saya.

Salmawy: Apakah saat itu kapasitasnya sebagai juru bicara presiden Gamal Abdul Nasser?

Mahfuz: Bukan. Waktu itu dia masih menjabat sebagai kepala penerbitan buku dan surat kabar di Dinas Penerangan. Saya berhubungan baik dengannya. Kantor kami saling berdekatan. Kebetulan kami berdua menempati gedung yang sama di jalan Talaat Harb. Suatu hari saya diundang ke kantornya. Dia mengatakan bahwa beberapa ulama Al-Azhar bermaksud mendiskusikan novel tersebut dengan saya. Saya bersedia dan segera mengatur tanggal pertemuan. Pada waktu yang telah ditentukan, saya mendatangi ke kantor El-Khali lalu menunggu kedatangan mereka. Tapi, tak satu pun yang datang. Setelah itu, El-Kholi mengatakan lebih baik saya melupakan mereka. Kami pun mendiskusikan novel tersebut hingga sampai pada pernyataan bahwa sebagai Kepala Penerbitan Dinas Penerangan, dia melarang penerbitan novel tersebut di Mesir. Sama sekali bukan karena tekanan dari Al-Azhar. Dia juga mengatakan saya boleh menerbitkan novel tersebut di luar negeri. Inilah kesepakatan yang hingga saat ini masih saya hormati.

Salmawy: Tapi bukankah sensor buku kini semakin jarang dan El-Kholi pun telah meninggal?

Mahfuz: Saya tidak menerbitkannya di Mesir bukan semata alasan sensor maupun tekanan Al-Azhar, tapi karena kesepakatan itu.

Salmawy: Banyak penulis merasa keberatan pada sikap Al-Azhar tersebut.

Mahfuz: Al-Azhar tidak memiliki otoritas. Jika saya mau, novel tersebut pasti akan diterbitkan versi Al-Ahram atau orang-orang sesudahnya. Hanya Al-Ahram yang menerbitkan novel tersebut dengan izin penuh dari saya.

Salmawy: Para ulama Al-Azhar menyatakan bahwa mereka bersedia membaca kembali novel itu jika Anda yang memintanya.

Mahfuz: Saya tidak akan melakukannya. Itu kewajiban penerbit. Jika saya meminta Al-Azhar sama saja mengakui hak yang tak mereka miliki. Saya tidak memperdulikan himbauan Al-Azhar.

Barmawy Munthe, pengajar UIN Jogjakarta, yang mengambil topik penelitian mengenai wanita dalam Trilogi Kairo untuk disertasi doktoralnya, berkesempatan mengunjungi Mahfuz dan menanyakan beberapa hal mengenai novel tersebut.

Munthe: Saya heran melihat kondisi perempuan sekarang dan perubahan mereka setelah Anda menulis Trilogi Kairo.

Mahfuz: Novel itu menggambarkan kaum perempuan dalam berbagai karakter. Anda melihat karakter perempuan yang tradisional dan patuh, juga ada yang tipe perempuan moderen.

Munthe: Dalam penelitian, saya membandingkan antara dunia fiksi dan realita sejarah. Perubahan realita sejarah mendorong perubahan dalam dunia fiksi. Realitas yang Anda gambarkan dalam novel tersebut sangat dinamis. Sangat fleksibel dengan menawarkan adanya perkembangan kondisi, tidak hanya sebatas potret.

Mahfuz: Saya menghadirkan 3 generasi perempuan dengan karakter-karakter yang dipengaruhi perkembangan jaman. Subjek Apa yang akan Anda ajarkan setelah meraih gelar PhD?

Munthe: Tentu saja masih seputar karya-karya Anda yang sangat mengagumkan, dalam, kaya, dan penuh dimensi yang belum sepenuhnya tereksplorasi. Saya membaca banyak tulisan tentang Anda. Tapi tiap kali membaca karya-karya Anda, selalu saja saya temukan sesuatu yang baru dan luput dari perhatian. Novel-novel Anda sangat populer di Indonesia.

Seorang peneliti film yang tertarik pada karier Mahfuz sebagai penulis skenario menanyakan tentang motivasi dan kesan Mahfuz saat bekerja di bidang perfilman.

Mahfuz: Tentu saja saya sangat menikmatinya karena film adalah salah satu bentuk seni. Hal yang menarik bagi saya adalah dramatisasi dalam setiap skenario. Segala sesuatu yang terjadi dengan dramatisasi terlihat menarik di mata saya. Itulah karir saya.

Peneliti: Apa perbedaan utama antara menjadi sastrawan dengan penulis skenario?

Mahfuz: Cerita dalam film disusun berdasarkan rangkaian imajinasi visual sementara cerita dalam sastra bergantung pada kemahiran verbal. Ketika menulis untuk skenario film, kebebasan Anda menjadi terbatasi. Anda tak dapat menuliskan sesuatu yang sulit ditangkap kamera. Sementara dalam novel, penulis memiliki kebebasan penuh menceritakan apapun.

Peneliti: Adakah hal yang bisa diungkapkan melalui film tapi tak bisa diceritakan lewat sastra?

Mahfuz: Tidak ada. Lingkup kesusastraan lebih luas ketimbang film.

Peneliti: Bagaimana pendapat Anda tentang skenario? Apakah skenario juga membutuhkan kreativitas tertentu atau hanya berkutat dengan masalah teknik?

Mahfuz: Skenario merupakan kombinasi dari keduanya. Untuk menulis sebuah skenario, Anda perlu menguasai kemampuan khusus. Untuk dapat menghasilkan skenario yang bagus, Anda harus kreatif. Sebagian skenario yang saya tulis bergantung pada gagasan yang dikonseptualisasikan oleh sutradara atau saya sendiri. Untuk mengubah gagasan sastra ke dalam format skenario membutuhkan kreativitas khusus.

Peneliti: Bagaimana Anda memperlakukan novel karya penulis lain? Apakah Anda berkeinginan untuk menulis ulang karya mereka dengan gaya Anda sendiri?

Mahfuz: Tentu saja tidak. Saya harus memberikan kesetiaan pada bentuk teks asli. Menurut saya, lebih baik menulis novel baru ketimbang menulis ulang novel orang lain. Tapi saya sepakat dengan pengubahan format novel ke dalam skenario sepanjang masih menyisakan keaslian novel tersebut.

Peneliti: Tapi ketika orang lain menulis sebuah skenario berdasarkan novel Anda, mereka melakukannya dengan penuh kebebasan.

Mahfuz: Setiap orang memiliki gaya kerja sendiri-sendiri.

Mesir, dan terutama Kairo, merupakan pusat kehidupan Mahfuz. Di sinilah dia hidup dan melakukan segala aktivitasnya. Novel-novel awalnya bergaya realistik yang mengungkapkan sejarah kuno negeri ini. Bagi Mahfuz, Mesir adalah tumpah darahnya, sumber inspirasi bagi karya-karyanya, dan tempat menyandarkan identitas kemanusiaan. Berikut ini, kesan-kesan Mahfuz mengenai Mesir yang terungkap dalam sebuah wawancara dengan Muhammad Salmawy (editor sastra surat kabar al-Ahram).

Salmawy: Bagaimanakah cara Anda memandang Mesir?

Mahfuz: Mesir bukanlah sekedar wilayah geografis. Mesir adalah pencipta peradaban. Inilah yang menyebabkan Mesir dijuluki sebagai induk bumi (the mother of the earth). Mesir menempati tempat terhormat di antara negara-negara lain di dunia, seperti halnya penghormatan kepada orang tua Anda. Anda akan tetap menghormati keduanya meskipun Anda lebih kaya, lebih pintar, serta lebih berkuasa. Negeri ini hanya berwujud sebuah garis tipis sepanjang lembah sungai Nil sementara sisanya merupakan gurun pasir yang tidak bisa dihuni. Persoalan bukan terletak pada luas daerah, melainkan pada semangat orang-orang yang menghuninya. Garis tipis tersebut menciptakan nilai-nilai moral, konsep monoteisme, kesenian, sains, dan sistem administrasi yang mengagumkan. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan rakyat Mesir bisa bertahan di saat kebudayaan negeri-negeri lain musnah.

Salmawy: Apa rahasianya hingga Mesir bisa berbuat seperti itu?

Mahfuz: Rakyat Mesir bisa mempelajari cara menyerap sari pati tanah. Mereka sangat peduli pada kehidupan dan tahu cara memeliharanya. Rakyat Mesir kuno telah menemukan sistem pertanian dan menyembah tumbuhan. Mereka merupakan komunitas hijau pertama di dunia. Melalui sejarah, orang-orang Mesir merasa bahwa misi mereka adalah memelihara kehidupan dan merasa bangga dengan hal itu. Hadirnya moralitas jauh sebelum agama-agama besar tak sebatas sebagai sistem untuk mengontrol dan mengendalikan manusia, tapi sekaligus perlindungan untuk mencegah kekacauan dan kematian.

Salmawy: Sepanjang sejarah, Mesir juga dipengaruhi oleh peradaban lain. Menurut Anda, peradaban manakah yang memiliki pengaruh terbesar?

Mahfuz: Peradaban Islam. Islam masuk ke Mesir membawa kepercayaan Semitik yang baru bagi rakyat Mesir. Keadilan dan kesetaraan seluruh umat manusia, misalnya landasan prinsip Islam. Islam tidak membedakan warna kulit, etnis, ataupun kekayaan. Di hadapan Tuhan, penguasa dan subjek peribadatan setiap orang setara. Mesir tetap mempertahankan beberapa karakter asli setelah penaklukan Islam. Islam merekonstruksi karakter rakyat Mesir tanpa melenyapkan akar-akarnya. Pengaruh Islam pada rakyat Mesir melebihi apapun yang terjadi di Mesir sejak masa Fira’un.

Salmawy: Apakah Mesir dengan peradabannya yang luar biasa juga mempengaruhi Islam?

Mahfuz: Mesir memberi suara baru pada Islam. Mesir tidak mengubah prinsip-prinsip dasar ajaran Islam, tapi budaya Mesir memberi sebuah nafas baru. Sesuatu yang tidak bisa ditemukan di tanah Arab. Mesir mengembangkan Islam yang moderat, toleran, dan tidak ekstrem. Penduduk Mesir merupakan pemeluk yang saleh, tapi mereka tahu cara memadukan kesalehan dan kegembiraan, seperti yang telah dilakukan oleh nenek moyang di masa lampau. Rakyat Mesir merayakan hari raya dengan cerdas. Festival keagamaan dan bulan Ramadhan merupakan kesempatan untuk merayakan kehidupan.

Menegangnya hubungan Islam-Barat yang dipicu oleh serangkaian aksi terorisme juga mendapat perhatian dari Mahfuz. Dalam wawancara berikut akan dibahas masalah-masalah tersebut serta sedikit menyinggung tentang pencekalan novelnya. Wawancara ini dilakukan oleh seorang jurnalis Barat yang tak disebutkan namanya dalam situs Al-Ahram.

Jurnalis: Bagaimana Anda melihat prospek hubungan Barat-Timur dalam pergolakan dunia saat ini?

Mahfuz: Seni dan budaya merupakan hal esensial bagi tumbuhnya rasa saling memahami. Tak ada sesuatu pun yang dapat menggugah seseorang kecuali hal-hal yang menyentuh hatinya. Kami memahami karakter masyarakat Barat lebih baik ketimbang pemahaman mereka terhadap kami.

Jurnalis: Sejak penganugerahan Nobel Sastra untuk Anda di tahun 1988, masyarakat Barat menjadi lebih familier dengan karya sastra dan budaya Arab karena karya sastra memotret seluruh aspek kehidupan masyarakat. Karya-karya Anda telah membantu kami tidak hanya untuk memahami kesusastraan Arab, namun juga memberikan wawasan mengenai masyarakat Anda. Trilogi Kairo, misalnya, menghadirkan potongan peristiwa penting selama periode dua perang besar di Mesir. Sayangnya, pemahaman baru dalam novel Anda ini dirusak oleh sebuah konflik yang terjadi antara peradaban Barat dan Muslim. Sejak peristiwa 9/11 (pengeboman WTC), para pemimpin negara maju berulang kali menyatakan bahwa Islam adalah musuh utama. Menurut Anda adakah harapan untuk mengembalikan keadaan saling memahami tersebut?

Mahfuz: Tentu saja saya menyadarinya. Dunia kita sedang sakit, dalam arti dalam keadaan yang tidak sesuai harapan. Kelak ketika semuanya pulih, niscaya kita akan berusaha untuk saling memahami kembali. Kita tahu bahwa pada akhirnya perang hanya akan berujung pada kolonialisme. Fenomena ini tampak seperti sebuah upaya yang dilakukan oleh suatu kekuatan untuk membangun imperium baru dengan cara-cara klasik. Tapi di tengah konflik Barat-Timur ini, kami masih mendengarkan musik mereka dan memberikan apresiasi pada film-film asing. Di sana pun buku-buku kami pun masih diterjemahkan. Perlu diingat masih ada upaya para intelektual Barat untuk memahami masyarakat Arab dan Islam.

Jurnalis: Bagaimana dengan penyebaran ekstremisme di berbagai tempat?

Mahfuz: Ketika keadilan terpelihara dengan baik, maka ekstremisme akan hilang sebab itu adalah produk ketidakadilan.

Jurnalis: Anda pun dilukai oleh tangan-tangan ekstremis. Salah satu novel Anda sampai hari ini tidak diterbitkan di Mesir karena pihak yang tidak menyetujui karya tersebut.

Mahfuz: Itu sebuah kasus khusus dan saya tidak merisaukannya. Masyarakat tidak harus membaca sebuah novel yang mereka anggap tidak harus dibaca hingga suatu saat pendapat mereka berubah. Tugas saya menulis dengan mempergunakan penilaian artistik meski banyak orang merasa tidak nyaman. Saya hanya menulis hal-hal yang saya yakini bukan yang lain.


Wawancara berikut ini diterbitkan oleh Surat kabar mingguan Al-Ahram sesaat sebelum wafatnya Najib Mahfuz. Dia kembali diwawancarai oleh Muhammad Salmawy, redaktur sastra, surat kabar tersebut.


Salmawy: Setelah kemajuan sains dan teknologi, masihkah ada tempat untuk agama di dunia materialistik ini?

Mahfuz: Di masa modern peran agama menjadi semakin krusial. Manusia telah membuat kemajuan luar biasa yang tak tercapai di masa lalu. Kekuatan ini bisa dipergunakan sesuai dengan prinsip-prinsip moral dan kemanusiaan atau disalahgunakan menjadi alat untuk mencapai segala macam kepentingan. Ketika kekuatan ini dipisahkan dari moralitas, pencarian materi hanya akan melahirkan bencana, seperti yang terjadi pada Perang Dunia dan konflik-konflik lain. Seluruh kejahatan dan kekerasan yang terjadi di sekeliling kita merupakan hasil dari pemisahan antara kepentingan dan prinsip. Ketika manusia mempergunakan kekuatannya sesuai dengan prinsip agama, maka hasilnya akan bisa dipertanggungjawabkan.

Salmawy: Dapatkah agama digantikan oleh filsafat yang berdasar pada prinsip-prinsip kemanusiaan?

Mahfuz: Memang ada ajaran-ajaran filsafat yang mengangkat isu-isu moral. Tapi jika diamati sebenarnya filsafat sangat dipengaruhi oleh agama. Jacques Rousseau, misalnya, tidak bisa dipisahkan dari Kristianitas, demikian pula Francis Bacon. Di samping itu, ada perbedaan antara menyandarkan diri pada filsafat dan percaya pada suatu keyakinan (agama). Moralitas manusia sangat luar biasa, tapi hanya orang-orang beragama yang rela mati demi membela agamanya. Anda membutuhkan kepercayaan, tak hanya sebagai komitmen intelektual, tapi juga untuk berkorban. Inilah yang menyebabkan banyak filsuf tetap menghargai kekuatan iman. Seorang filsuf Prancis yang hidup pada abad 19, Victor Cousin, mengatakan bahwa kita membutuhkan agama demi tujuan agama itu sendiri. Kepercayaan bertempat dalam hati bukan dalam pikiran. Kaum sufi tidak menganalisis kepercayaan mereka, tapi menghidupkannya. Pada awalnya, pengalaman sufistik barangkali diawali dengan keraguan, seperti halnya imam Al-Ghazali yang telah menulis 200 buku mengenai berbagai macam topik dan berakhir dengan keteguhan religius.

Salmawy: Apakah Anda pernah mengalami momen keraguan seperti itu?

Mahfuz: Ya, pada saat saya masih remaja. Saya berusaha menyandarkan keimanan pada logika dan ilmu pengetahuan. Ini adalah periode yang sangat menyiksa dan berlangsung selama empat atau lima tahun. Tapi saya berhasil melaluinya dan pada akhirnya memperoleh keimanan yang sama dengan Al-Ghazali. Saya mengikuti kata hati dan mencapai keimanan yang hanya bisa dirasakan oleh jiwa.

Salmawy: Apakah keimanan selalu berkaitan dengan hati?

Mahfuz: Mereka yang mempercayai moralitas dengan akal pikirannya akan selalu mempertanyakan prinsip-prinsip moralitas. Mereka mungkin akan melarikan masalah moralitas menjadi kebutuhan akan kebahagiaan. Tapi ketika prinsip-prinsip tersebut datang dari Tuhan, mereka akan memperoleh makna yang lebih dalam. Tuhan menyimpan makna dalam prinsip-prinsip tersebut, seperti halnya ketika Dia menyimpan makna dalam alam semesta. Tanpa Tuhan, tak ada makna atau nilai-nilai yang bisa bertahan. Alternatif yang bisa disandarkan pada Tuhan hanya absurditas. Alternatif bagi Tuhan hanya ketiadaan makna.

Diterjemahkan dan disusun oleh: Muallaqat Forum Jogjakarta
Editor: Nisrina Lubis

0 komentar:

Posting Komentar