Jumat, 19 September 2008

MOMEN PERTEMUAN MAHFOUZ DAN COELHO

Hal pertama yang diucapkan penerima Nobel Naguib Mahfouz pada sabahatnya Paulo Coelho dari Brazil adalah, “Jenggot Anda sama seperti jenggot saya.” Kemudian Coelho menjawab, “Sama warnanya, abu-abu.” Keduanya tertawa dan itulah mencairkan kebekuan diantara mereka.

Kedua penulis itu telah mencapai capaian literer yang tinggi. Mahfuz menggambarkan nasionalisme yang begitu dalam sehingga dapat memilah makna universalnya, sementara Coelho membebaskan diri dari pembatasan manusiawi, terutama seputar pencarian diri yang tersimbolisasikan dalam The Alchemist. Novel itu menceritakan harta karun yang membawa tokohnya berpetualang dari Spanyol sampai ke Gurun Mesir.

Inilah isi perbincangan keduanya:

“Novel-novel Anda sangat menghanyutkan saya. Berbeda sekali saat saya membaca novel lainnya.” Ujar Coelho.

Mahfoudz menjawab, “Anda berhasil mempengaruhi dunia dengan karya-karya Anda. Karya Anda diterjemahkan ke dalam 56 bahasa dan terjual lebih dari 60 juta eksemplar. Itu artinya para pembaca Anda ada sekitar…”

Coelho memotong, “Anda sudah meraih Nobel, saya belum.”
Mahfoudz menyahut dengan nada serius, “Naluri saya mengatakan Anda akan mendapatkannya. Semua kriteria sudah Anda miliki dan yang lebih penting, novel Anda itu humanis. Bernilai cinta dan perdamaian manusia, selain juga berhasil mempengaruhi persepsi pembaca.”

Coelho tertawa dengan penuh penghargaan. “Akan saya sampaikan pada komite Nobel sebagai bentuk pencalonan saya jika memang pemenang Nobel dapat menominasikan penulis lain.”

Mahfoudz menjawab, “Saya biasa menerima surat dari Komite yang menanyakan nominasi untuk Nobel Sastra, tapi tak pernah saya tanggapi. Mereka akhirnya menyerah dan tak pernah lagi mengirimkan surat seperti itu.”
“Mengapa Anda tidak pernah mengajukan nominasi Anda sendiri?” Tanya Coelho.
“Penghargaan itu bukan atas nama pribadi. Biarkan saja lembaga yang berwenang melakukannya. Jadi para nominasi juga menerima hadiah yang sepantasnya.

Ada satu pertanyaan saya (penerj: Muhammad Salmawy) untuk Coelho: “Anda mengatakan sudah membaca seluruh novel terjemahan Mahfoudz dalam bahasa Portugis. Menurut Anda, apakah ada kesamaan dengan novel-novel Anda?”
“Kami berdua cenderung membangun jembatan kemanusiaan dengan membangkitkan ketertarikan terhadap manusia ketimbang menyoroti ide-ide abstrak, doktrin, maupun ideologi. Misalnya, bagi saya pribadi, hal terpenting saat mengunjungi negara lain adalah mengenal masyarakat lokal. Jika saya diminta memilih antara musium dengan kafe. Saya pilih kafe.” Jelas Coelho. Dia kemudian melanjutkan, “Kafe juga tempat favorit Mahfouz karena alasan yang sama. Dia menjelajahi seluruh pelosok Kairo selama bertahun-tahun dengan berjalan kaki. Dia selalu mengatakan tak pernah sempat lagi membaca, tapi ada seorang teman psikiater yang menceritakan novel The Alkhemist dengan begitu rinci seolah-olah dia telah membacanya. Apa yang mengusik rasa ingin tahunya adalah gagasan tokoh mencari harta karun.”

“Saya sudah membaca novel The Road. Saya merasa tersindir karena novel itu juga seputar pencarian, tapi pencarian ayah. Sebuah pencarian yang lebih nyata, pencarian jati diri, pencarian yang sama dengan posisi tokoh saya.” Ujar Coelho.

“Masing-masing manusia memiliki harta karun yang ditemukan dari sebuah pencarian panjang.” Ujar Mahfouz.

“Harta karun yang terpendam dalam diri manusia.” Tambah Coelho.
“Itulah harta karun sebenarnya, ketika ditemukan takkan mungkin hilang.” Jawab Mahfouz.
“Pernahkah tema ini muncul dalam tulisan Anda?” Tanya Coelho.
“Pencarian seperti ini terdapat dalam novel Ibn Fattouma’s Journey.” Jawab Mahfouz.
“Saya harus membaca novel itu karena saya menyukai tulisan Anda yang memuat kedalaman psikologis yang unik. Satu ciri penulis besar.” Puji Coelho.
Mahfuz terdiam seraya mencari kalimat untuk membalas pujian tersebut.

Pada saat itulah, Coelho menjawab pertanyaan saya (penerj: Muhammad Salmawy): "Anda ingin mengetahui kesamaan dari kami berdua. Keputusan tersulit yang harus dibuat seorang penulis adalah menjadikan menulis sebagai pekerjaan utama. Keputusan itu membutuhkan kemantapan hati sebelum memasuki sebuah kehidupan yang terpencil. Inilah alasannya saya tetap berdiskusi dengan banyak orang setiap kali saya mendapatkan kesempatan itu. Saya paham Mahfouz juga berada di posisi itu.”

Mahfouz pun berkata, "Saya tetap menemui teman-teman saya seminggu sekali, meski kondisi kesehatan tidak memungkinkan. Jika tidak niscaya hidup saya sangat menyedihkan."

Coelho melihat sebungkus rokok di saku Mahfuz lalu berkomentar, "Saya senang Anda masih bisa merokok." Mahfuz menjawab dengan raut sedih, "Dokter hanya mengijinkan 2 batang setiap hari."

Coelho yang sanggup menghabiskan 10 batang rokok setiap hari di usia 58 tahun mengatakan bahwa seorang pria berusia 93 tahun seperti Mahfouz membuatnya optimis. Keduanya kembali tertawa

Soal perbedaan tulisannya dengan Mahfouz, Coelho menjawab, “Saya tidak tahu. Mungkin Mahfouz telah menulis lebih dari 40 novel sementara saya hanya menulis seperempatnya.

Coelho menanyakan pada Mahfouz mengapa belum juga menulis autobiografi. Lalu dijawab, “Saya lebih memilih menulis novel.” Coelho lalu menanyakan soal Echoes of Authobiography yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Mahfouz menjawab, “Hanya gemanya saja. Autobiografi saya sama sekali tidak menarik, dan saya juga tidak mau menulisnya.”

Menurut Mahfouz, ada perbedaan antara tulisannya dengan tulisan Coelho dengan kembali menekankan bahwa dia belum membaca buku itu secara langsung. “Bedanya adalah kesederhanaan dari kedalaman ceritanya

Coelho juga menambahkan bahwa itu adalah ambisinya mencapai kedeserhanaan dan komplikasi misterius di balik sebuah gurun.

Sebelum berpisah, Coelho menatap Mahfouz lalu mengatakan, “Pertama kali saya datang ke mesir pada tahun 1978. Saya menyentuh Piramida. Ketika kembali ke Brazil, ide untuk The Alchemist hadir dalam benak saya dan langsung saya tuangkan ke dalam tulisan. Ini kunjungan kedua saya dan sangat berarti. Sama halnya ketika terinspirasi dengan Piramida.”

Coelho lalu membubuhkan tanda tangannya pada novel The Alchemist versi bahasa Arab terbitan Beirut disertai kata-kata: "Untuk sosok yang telah mengajarkan banyak hal." Buku itu dihadiahkan untuk Mahfouz. Sebagai balasannya, Mahfouz memberikan buku terbarunya, Dream Recuperation, versi bahasa Perancis. Ketika Coelho menunduk dan berusaha mencium tangan Mahfouz setelah membubuhkan tanda tangan, Mahfouz cepat-cepat menarik tangannya dan membungkukkan badan sebagai penghormatan.

================
Sumber : al-Ahram Weekly 2 - 8 June 2005 Issue No. 745
Ditulis oleh : Muhammad Salmawy, seorang wartawan harian al-Ahram Mesir yang sering menemani Mahfuz menemui tamu-tamunya dari luar negeri.
Diterjemahkan dari You Have Grown Your Beard oleh Muallaqat Forum.
Editor: Nisrina Lubis


1 komentar:

Unknown mengatakan...

Luar biasa, 2 pembesar sastra bertemu dan bercengkerama, satu kalimat yang terngiang dalam diri saya setelah membaca 3 kali buku ini " jika kamu menginginkan sesuatu maka seluruh jagat akan membantumu mewujudkannya.

www.perangkap-nyamuk.blogspot.com

Posting Komentar