Selasa, 26 Agustus 2008

Kelahiran Kembali (Fudhul Thifl au Qadr al-Rajul)

Ghassan Kanafani (Palestina)
O anakku, o masa depan.
Kemarin kudengar suaramu bertanya dari kamar sebelah: “Ma, saya ini orang Palestina, ya?” Begitu ibumu mengucapkan kata ya, senyap segera membahana ke segenap sudut ruangan.

Seakan seketika itu juga sebuah benda yang tadinya digantungkan di atas kita jatuh dan menimpa kepala. Berdebum. Lalu hening.

Setelah itu, aku tidak percaya lagi pada apa yang kudengar. Tapi aku percaya bahwa jemariku yang sedang memegang buku menggigil. Tidak. Semuanya telah terjadi secara mengenaskan: kudengar kamu menangis.

Tidak bisa aku beranjak. Sesuatu yang tidak kuketahui yang berasal dari senandungmu yang sukar dipahami sedang berada di kamar sebelah itu. Seperti malaikat yang tiba-tiba datang membelah dadamu dan meletakkan kembali hati yang kini menjadi milikmu.

Sementara pertanyaanmu yang tadi masih menggantung di langit-langit, kini giliran jemariku yang menggigil:

“Apakah saya orang Palestina juga?”

Kemudian malaikat yang memukul dengan gerakan secepat kilat dan tangkas turun seperti seorang ahli bedah yang terlatih: “Ya.” Suasana kembali senyap. Sebuah benda seperti baru saja terjatuh. Kemudian kudengar kamu menangis.

Walaupun melihat apa yang terjadi di ruangan sebelah itu, aku tetap tidak dapat beranjak dari tempat duduk. Meski demikian, aku tahu bahwa sebuah negeri yang jauh terlahir kembali. Di negeri itu ada hamparan tanah, ada kincir, kebun zaitun, dan ada pula mayat-mayat, bendera yang satu koyak-moyak sedang satu bendera lagi berkibar gagah. Bendera itu sedang menuju masa depannya yang terbuat dari gumpalan darah dan daging yang lahir pada pelukan seorang bocah.

Perasaan yang tidak kumengerti ini telah merasukiku semenjak lima tahun silam saat kamu dilahirkan. Aku sedang berdiri di sana menunggumu lahir ke dunia, dari alam yang tidak diketahui menuju alam yang juga antah-barantah. Tapi ketika kamu lahir tangisanmu lebih kudengar sebagai sebuah rintihan keras. Kamu jatuh tepat mengenai pundakku sehingga aku makin terperosok jauh ke dalam perut bumi.

Saat ini, aku sedang berada di kamar sebelah itu dan melihatmu lahir kembali. Aku merasa kembali kamu benamkan ke dalam tanah sehingga aku lebih jauh lagi terperosok karena pundakku kembali kamu injak. Oh andai waktu itu aku dapat melihat wajah kecilmu yang amat polos, dan melihat bagaimana jawaban ya itu turun seperti kutukan yang tak terelakkan. Bagaimana kepolosan itu begitu menguasaimu pada saat kamu sudah menjadi bocah yang tidak sadar akan jejaring yang terhampar di hadapan. Pada waktu itu, di hadapan kedua mata ibumu dan jemariku yang menggigil itu kamu seperti terbuat dari kertas. Ada orang yang memberimu senapan dan meletakkan matamu pada pelatuknya.

Di antara kamar kita, di samping ada dinding, terdapat suruk-suruk bumi yang merangkak seperti mitos dan kembali mempertautkan kita. Aku tidak sanggup beranjak dari tempatku, dan entah dengan cara bagaimana aku tahu bahwa kamu tidak bisa disentuh. Mengapa kamu menangis padahal kamu tidak ingin menangis? Aku percaya pada benda yang entah bagaimana dapat menjelmakan dirinya pada kata-kata tanpa seorang pun bisa tahu siapa dia sebenarnya.

Tanpa sadar, kamu pun merasakan kata-kata yang bermakna afiliatif dan kesengsaraan itu. Pekik kemenangan barangkali lebih memberimu makna daripada aku. Tahun-tahun yang merembes dari usiaku bergabung dengan usiamu. Meski tidak bernilai apa-apa, impianku dapat meresap dan membuat impianmu bertambah besar.

Kamu tentu merasakannya. Itu pasti. Kalau tidak, mengapa kamu menangis?

Aku masih ingat waktu duduk di kamar sebelah itu mendengarmu dilahirkan kembali melalui suara rintihan dan bagaimana aku juga kembali dilahirkan:

Waktu itu usiaku masih sepuluh tahun ketika konvoi mobil membawa kita melewati neraka pelarian. Aku belum tahu apa-apa. Tidak merasakan apa-apa. Aku senantiasa tergelincir tanpa sadar dalam kepolosan masa kecil. Namun, suatu kejadian yang tidak dapat aku lupakan menarik perhatianku waktu itu: truk-truk sudah berhenti. Lantaran keingintahuanku sebagai bocah yang berlebihan atau karena sudah takdir sebagai seorang laki-laki, aku menyusup ke tempat para lelaki berbaris yang kulihat sedang menyerahkan senjata di bawah parit agar setelah ini mereka bisa masuk ke dunia pengungsian dengan tangan tengadah. Aku kembali dengan wajah muram. Aku merasakan sesuatu yang tidak dapat aku pahami. Ibuku waktu itu sedang duduk-duduk dengan beberapa perempuan lain. Aku pun mendekati ibu layaknya sebuah tempat perlindungan.

Ibu bertanya: “Kamu kenapa?”

“Mereka menyerahkan senjata, bu.”

Seperti ibumu yang memberimu jawaban ya, ibuku juga memberiku jawaban ya. Semua diam. Sesuatu seperti jatuh. Di bawah tatapan matanya yang cerdik ia melihatku menangis.

Pada hari itulah aku kembali dilahirkan. Aku melihat para lelaki dengan pandangan yang tidak biasa. Hanya ibuku saja yang memandangku dengan cara yang tidak biasa.

Jangan percaya bahwa manusia itu tumbuh. Tidak. Ia dilahirkan secara tiba-tiba. Sebuah kata yang memiliki letupan baru menembus dadanya seketika. Hanya dalam satu adegan ia sudah terbang dari langit-langit masa kanak-kanak menuju jalan ke neraka.

Seperti kata ya yang pedih itu melahirkanku, kata ya yang lain juga melahirkanmu kembali. Aku bisa mendengar bagaimana kamu menyambutnya dengan jalinan sel seorang manusia yang terpancar dari alam antah barantah menuju alam yang antah barantah pula, dalam alunan suara yang selalu membuatmu terperangkap.

Apakah pertanyaanmu itu, seperti pertanyaanku dahulu, hanya bersifat keingintahuan sebagai seorang bocah ataukah sudah takdirmu sebagai laki-laki?

Ah, itu tidak penting.

=========================================================

Sastrawan yang bernama lengkap Ghassan Fayiz Kanafani ini dilahirkan di Yafa (Palestina) pada 9 April 1936. Di samping sebagai sastrawan ia juga dikenal sebagai jurnalis. Hidupnya banyak ia habiskan di pengungsian dan meninggal pada 8 Juli 1973 dalam usia 36 tahun di Beirut. Ia meninggal dalam serangan sebuah bom mobil yang tragis di depan rumahnya.

Cerpen ini telah dimuat di Riau Pos edisi Minggu, 13 Juli 2008

Diterjemahkan oleh: Misran

1 komentar:

ashli lho mengatakan...

saudara yang berbahagia, aku pengen jadi sastrawan yang handal seperti halnya Ghassan Kanafani.
minta doanya ya..

dari terjemahan cerpen di atas, kenapa tidak ada teks asli berbahsa arab?
mohon teks aslinya ditampilkan.
atas perhatiannya aku uapkan banyak terima kasih.

Posting Komentar