Selasa, 26 Agustus 2008

Nyonya Iqbal

Oleh:
Mahmud Taymur
(Mesir)

Umi Labiba masuk ke dalam kamar majikannya untuk menemui Nyonya Iqbal. Dia mengatakan bahwa si kusir kereta masih menunggu upahnya di depan rumah. Dahi Nyonya Iqbal berkerut. Disuruhnya Umi Labiba mengatakan pada si kusir supaya kembali lagi sore nanti. Umi Labiba beranjak dengan perasaan sedikit cemas. Dia berharap berhasil meyakinkan laki-laki itu agar menuruti kemauan majikannya.
Begitu mereka berhadapan, laki-laki itu menyambutnya dengan kata-kata kasar dan sikap kesal. Umi Labiba langsung menyampaikan pesan majikannya. Si kusir bertambah gusar dengan mulai mengutuk dan menyumpahinya. Kusir kereta itu sangat marah dan merasa berhak melakukannya. Enam kali sudah didengarnya Nyonya Iqbal mengunjungi "teman-teman dekatnya." Jumlah utang nyonya itu kini mencapai 300 piaster. Sampai hari ini dia belum membayar satu piaster sekalipun. Kusir kereta kuda itu memiliki seorang istri dan anak yang tak pernah memperoleh makanan dan pakaian yang layak. Sangat wajar jika ia marah. Sudah enam kali datang dia hanya disambut dengan janji belaka.

Laki-laki itu pun berlalu seraya terus berteriak mengumpat yang terdengar sampai ke seisi rumah. Ia mengingatkan sore nanti seluruh upahnya harus dibayar. Di dalam kamarnya, Nyonya Iqbal tak mempedulikan segala sesuatu yang terjadi di sekelilingnya. Ia bercermin kemudian mengikat rambutnya. Dia mencari kotak kosmetik kemudian mulai memoles wajah keriputnya.


Nyonya Iqbal berumur 38 tahun. Di masa muda dia seorang gadis yang memiliki dua hal penting, kecantikan dan tata krama. Di usia 18 tahun perempuan itu menikah dengan seorang penjudi serta pemabuk. Selama delapan tahun mereka tinggal bersama. Setelah itu Nyonya Iqbal ditinggalkan suaminya yang semakin tenggelam dengan kebiasaan buruknya. Menginjak usia 20 tahun dia resmi menjadi janda. Hingga akhir hayat, suaminya hanya mewariskan seluruh kebiasaan buruk saja. Nyonya Iqbal ikut terlibat pada hal-hal mesum dan tak bermoral. Saat masih belia, sang suami membawanya ke dalam kesenangan semu, bahkan dengan sengaja menjerumuskannya pada kebusukan. Laki-laki itu membujuknya, lebih tepat mengubahnya menjadi seorang pemabuk dan pecandu obat-obatan terlarang. Dia juga menawarkan tubuh sang istri pada teman-temannya.

Suami Nyonya Iqbal meninggal dengan mewariskan penderitaan yang sempurna pada perempuan muda ini. Dia juga membekaskan kesedihan, rasa malu, serta penyakit dalam tubuh istrinya. Baru berusia 38 tahun Nyonya Iqbal sudah terlihat setua perempuan berusia 58 tahun. Tubuhnya kurus. Wajahnya terlihat muram. Kulitnya kuning pucat. Penderitaannya terpancar pada kantong di bawah kedua matanya. Gadis yang dulu cantik mempesona telah berubah menjadi seorang penjudi tua dan sakit-sakitan. Kecanduan semua jenis minuman dan obat-obatan, seperti alkohol dan kokain.

Nyonya Iqbal memiliki seorang anak berusia tujuh tahun. Tak jelas siapa ayahnya, tapi jelas dia dibesarkan di tengah penderitaan dan melewati masa kecil di lingkungan yang bejat.

Nyonya Iqbal benar-benar putus asa. Kecantikannya telah luntur sampai setiap lelaki tak menginginkannya. Hari demi hari, bahkan jam demi jam dia hanya memejamkan mata menanti masa depan.

Sore harinya, kusir kereta itu datang kembali. Masih juga dia berjalan sambil meneriakkan utang yang belum dibayar, tapi tak ada yang mau peduli. Dia meninggalkan keretanya di suatu tempat yang memisahkan taman kecil dan pintu rumah. Dia menggedor-gedor pintu rumah Nyonya Iqbal seraya berteriak marah. Nyonya Iqbal berada di kamarnya dan merias diri. Dia mengenakan gaun malam transparan yang tersisa dari jaman keemasannya. Rambutnya dibiarkan tergerai. Kakinya tanpa alas kaki. Payudaranya nampak menonjol layu dari belahan rendah gaunnya.

Nyonya Iqbal mendengar teriakan kusir kereta itu. Dia hanya tersenyum dan mengacuhkannya. Umi Labiba masuk lalu berkata bahwa laki-laki itu berusaha mengacaukan ketenangan "Harem" ini dengan sumpah serapahnya. Nyonya Iqbal menjawab pelan, “Kau ingin aku melakukan apa? Aku tak punya uang sepeser pun."

Kusir kereta itu berhasil mendobrak pintu dan menyerbu masuk ke dalam harem suci. Ia masuk ke ruang tamu sambil meneriakkan tagihannya. Umi Labiba tergesa menghampiri dan memaki kenekatan kusir itu. Dia berusaha menghentikan langkah lelaki itu dan hendak mengusirnya pergi. Hampir lima belas menit keduanya saling mencaci-maki. Akhirnya si pelayan yakin tak mungkin menghentikan kehendak laki-laki itu. Dia pun berteriak mencari pertolongan majikannya.

Seketika itu pula pintu kamar Nyonya Iqbal terbuka. Dia berdiri di sana mengenakan gaun malam tipis serta bertelanjang kaki. Masih juga dia bertanya dengan polosnya. "Apa yang terjadi, Umi Labiba?"
Kusir kereta itu tak mau memberi kesempatan Umi Labiba menjawab pertanyaan majikannya. Dengan gusar dia memperingatkan Nyonya Iqbal agar segera melunasi utang-utangnya. Dengan suara lembut tanpa rasa bersalah dia menjawab, "O, kenapa harus melakukan semua ini? Kemarilah, ini ambil upahmu." Kusir kereta itu terperanjat. Dia menatap perempuan itu dengan tajam. Dalam hati dia berusaha menebak-nebak kebenaran ucapan barusan.

Nyonya Iqbal menangkap kegamangan laki-laki itu. Dia mendekat lalu menggandeng pria itu. Akan dibawanya masuk ke dalam kamarnya. Si kusir semakin heran dan tak tahu apa yang harus dilakukannya. Nyonya Iqbal kembali berkata, "Kemarilah, ambil upahmu. Kenapa tak mau masuk? Orang asingkah kau?”

Kusir bernama Sahatta itu pun ikut masuk ke dalam kamar. Nyonya Iqbal menggenggam tangannya lebih erat. Menuntunnya seperti seorang tahanan. Sahata telah berusia 58 tahun, tapi seumur hidup tak pernah belajar apa pun selain mengendarai kereta. Awalnya dia bekerja dan tinggal di sebuah istal. Menyapu lantai, membersihkan kotoran, mencuci kereta, serta memandikan kuda-kudanya. Kemudian dia dipromosikan sebagai kusir yang bisa duduk di kursi kereta yang tinggi, mengenakan jas, serta jaket yang mirip seragam para pedagang. Penghasilannya dari mengendarai kereta kuda tak pernah cukup untuk makan istri dan kelima anaknya. Istrinya yang sakit-sakitan tak bisa memperoleh perawatan memadai.


Sahatta berkulit gelap, berjenggot kelabu yang dicukur hanya saat memiliki cukup uang. Dari perawakan sampai pakaiannya lusuh. Jari-jari kakinya mengintip dari ujung sepatu yang berlubang. Celananya dikencangkan dengan selendang merah yang lusuh. Kepalanya memakai tarbus berhias pita hitam tanpa kancing. Meski tanda-tanda kemiskinan meliputi seluruh pikiran sampai pakaiannya, Sahatta masih percaya dengan “keberuntungan” dan sekuat tenaga akan diwujudkannya.


Ketika duduk di kursi kusir, kau bisa mendengarnya menyenandungkan lagu-lagu cinta atau nyanyian-nyanyian jenaka. Ketika seorang wanita cantik satu kasta melintas di depan keretanya, serta-merta Sahatta mengangkat tarbus dan menggoyangkan sepatu compang-campingnya. Tak lupa tersenyum disertai lirikan nakal lalu berseru, “Manisku! Manisku! Jangan cepat-cepat! Hatiku terbakar!”


Dia sering juga melihat para wanita kelas tinggi mengenakan kerudung hitam tipis atau barqa tipis yang menampakkan raut wajah mereka. Dia akan menatap mereka dengan genit, sembari berbisik, “Tak akan ada yang kusisakan...”


Jika penumpangnya sepasang kekasih yang tengah kasmaran. Sahatta bisa mendengar suara bisikan, ciuman, atau gerakan sepasang kekasih yang tengah bercinta. Gairahnya pun bangkit tapi satu sisi dia merutuki keadaan istrinya. Sahatta merasakan gejolaknya berkobar-kobar, tapi tak tempat ada pelampiasan. Hanya ada kuda-kuda kurus yang lelah. Alhasil dia menghujani mereka dengan cambukan dan sumpah serapah.


Sahata memasuki kamar tanpa kunjung tahu maksud perempuan itu. Apakah Nyonya Iqbal serius atau tidak. Sahata mencium wangi bedak dan parfum memenuhi ruangan itu. Kegelisahannya memudar. Matanya kehilangan pendar iblisnya. Dia mulai mengamati tubuh perempuan itu saat mondar-mandir mencari kunci kotak penyimpanan uang. Perempuan itu membuka kotak lalu mengosongkan isinya sebagai bayaran yang dijanjikan. Sahata menatapnya penuh nafsu. Dia tertawa lebar menampakkan kebinatangannya.


Sahata belum pernah berada dalam satu ruangan dengan seorang wanita putih berkelas borjuis aristokrat apalagi mendapatinya hanya dengan busana tipis. Satu-satunya perempuan tak lain istrinya sendiri yang pincang. Kulitnya berwarna coklat, temperamental, berbaju biru lusuh, dan kerudung koyak warna hitam. Apa pernah dia melihat seorang wanita ramping yang lekuk-lekuk tubuhnya hanya terbungkus gaun malam tipis? Menampakkan sepasang kaki ramping nan lembut. Kulit putih kemerah-merahan. Raut wajah rupawan, dan mata yang memikat. Sepanjang hidup tak pernah dia menyaksikan kaki semacam itu. Poni yang jatuh di kening. Payudara yang begitu menonjol.


Pada saat itu, Sahata tidak melihat Nyonya Iqbal seperti hari-hari sebelumnya. Bertubuh kurus, berwajah pucat, dan mata lebam yang selalu tersamar bedak. Ditambah lagi senang melontarkan bujuk rayu menggoda. Sosok di hadapannya sekarang adalah gadis impiannya. Gadis berkulit putih yang menyembunyikan parasnya di bawah kerudung hitam transparan atau barqa putih yang tipis. Serupa dengan gadis di kereta yang terdengar tawanya dengan pinggul bergoyang dan desahan bernada suara merdu memikat melengkapi kesedihannya. Nyonya Iqbal mendekatinya lalu berkata dengan lembut, “Hari ini aku tak punya uang. Bisakah kau kembali besok?”


Dia menatap Sahatta dengan memelas dan genit merayu. Sahata menangkap maksud perempuan itu lalu menyahut, “Aku tidak akan meninggalkan tempat ini, nyonya. Seperti kata pepatah, “Merpati tak pernah masuk lewat jalan yang sama dengan jalan keluarnya.”
Nyonya Iqbal tersenyum. Dia tahu apa yang ada di benak laki-laki itu. Dengan cepat dia menjatuhkan diri ke dalam pelukan Sahatta tanpa mempedulikan kelusuhan dan bau lelaki itu. Dia mencium bibir lelaki itu dengan ciuman memabukkan seolah sanggup membuat Sahatta pingsan.

Jamal, putra Madam Iqbal yang baru tujuh tahun usianya, pulang ke rumah. Dari lubang kunci dia mengintip ke dalam kamar ibunya lalu terbahak-bahak. Dia berlari dan berpapasan dengan Umi Labiba. Kepalanya mendekat pada pelayannya itu. Dengan suara kekanakan dia membisikkan rahasia di dalam kamar ibunya. Rahasia tentang penghapusan utang sang kusir dengan mengagumkan dan mudah.

0 komentar:

Posting Komentar