Selasa, 26 Agustus 2008

Kelahiran Kembali (Fudhul Thifl au Qadr al-Rajul)

Ghassan Kanafani (Palestina)
O anakku, o masa depan.
Kemarin kudengar suaramu bertanya dari kamar sebelah: “Ma, saya ini orang Palestina, ya?” Begitu ibumu mengucapkan kata ya, senyap segera membahana ke segenap sudut ruangan.

Seakan seketika itu juga sebuah benda yang tadinya digantungkan di atas kita jatuh dan menimpa kepala. Berdebum. Lalu hening.

Setelah itu, aku tidak percaya lagi pada apa yang kudengar. Tapi aku percaya bahwa jemariku yang sedang memegang buku menggigil. Tidak. Semuanya telah terjadi secara mengenaskan: kudengar kamu menangis.

Tidak bisa aku beranjak. Sesuatu yang tidak kuketahui yang berasal dari senandungmu yang sukar dipahami sedang berada di kamar sebelah itu. Seperti malaikat yang tiba-tiba datang membelah dadamu dan meletakkan kembali hati yang kini menjadi milikmu.

Sementara pertanyaanmu yang tadi masih menggantung di langit-langit, kini giliran jemariku yang menggigil:

“Apakah saya orang Palestina juga?”

Kemudian malaikat yang memukul dengan gerakan secepat kilat dan tangkas turun seperti seorang ahli bedah yang terlatih: “Ya.” Suasana kembali senyap. Sebuah benda seperti baru saja terjatuh. Kemudian kudengar kamu menangis.

Walaupun melihat apa yang terjadi di ruangan sebelah itu, aku tetap tidak dapat beranjak dari tempat duduk. Meski demikian, aku tahu bahwa sebuah negeri yang jauh terlahir kembali. Di negeri itu ada hamparan tanah, ada kincir, kebun zaitun, dan ada pula mayat-mayat, bendera yang satu koyak-moyak sedang satu bendera lagi berkibar gagah. Bendera itu sedang menuju masa depannya yang terbuat dari gumpalan darah dan daging yang lahir pada pelukan seorang bocah.

Perasaan yang tidak kumengerti ini telah merasukiku semenjak lima tahun silam saat kamu dilahirkan. Aku sedang berdiri di sana menunggumu lahir ke dunia, dari alam yang tidak diketahui menuju alam yang juga antah-barantah. Tapi ketika kamu lahir tangisanmu lebih kudengar sebagai sebuah rintihan keras. Kamu jatuh tepat mengenai pundakku sehingga aku makin terperosok jauh ke dalam perut bumi.

Saat ini, aku sedang berada di kamar sebelah itu dan melihatmu lahir kembali. Aku merasa kembali kamu benamkan ke dalam tanah sehingga aku lebih jauh lagi terperosok karena pundakku kembali kamu injak. Oh andai waktu itu aku dapat melihat wajah kecilmu yang amat polos, dan melihat bagaimana jawaban ya itu turun seperti kutukan yang tak terelakkan. Bagaimana kepolosan itu begitu menguasaimu pada saat kamu sudah menjadi bocah yang tidak sadar akan jejaring yang terhampar di hadapan. Pada waktu itu, di hadapan kedua mata ibumu dan jemariku yang menggigil itu kamu seperti terbuat dari kertas. Ada orang yang memberimu senapan dan meletakkan matamu pada pelatuknya.

Di antara kamar kita, di samping ada dinding, terdapat suruk-suruk bumi yang merangkak seperti mitos dan kembali mempertautkan kita. Aku tidak sanggup beranjak dari tempatku, dan entah dengan cara bagaimana aku tahu bahwa kamu tidak bisa disentuh. Mengapa kamu menangis padahal kamu tidak ingin menangis? Aku percaya pada benda yang entah bagaimana dapat menjelmakan dirinya pada kata-kata tanpa seorang pun bisa tahu siapa dia sebenarnya.

Tanpa sadar, kamu pun merasakan kata-kata yang bermakna afiliatif dan kesengsaraan itu. Pekik kemenangan barangkali lebih memberimu makna daripada aku. Tahun-tahun yang merembes dari usiaku bergabung dengan usiamu. Meski tidak bernilai apa-apa, impianku dapat meresap dan membuat impianmu bertambah besar.

Kamu tentu merasakannya. Itu pasti. Kalau tidak, mengapa kamu menangis?

Aku masih ingat waktu duduk di kamar sebelah itu mendengarmu dilahirkan kembali melalui suara rintihan dan bagaimana aku juga kembali dilahirkan:

Waktu itu usiaku masih sepuluh tahun ketika konvoi mobil membawa kita melewati neraka pelarian. Aku belum tahu apa-apa. Tidak merasakan apa-apa. Aku senantiasa tergelincir tanpa sadar dalam kepolosan masa kecil. Namun, suatu kejadian yang tidak dapat aku lupakan menarik perhatianku waktu itu: truk-truk sudah berhenti. Lantaran keingintahuanku sebagai bocah yang berlebihan atau karena sudah takdir sebagai seorang laki-laki, aku menyusup ke tempat para lelaki berbaris yang kulihat sedang menyerahkan senjata di bawah parit agar setelah ini mereka bisa masuk ke dunia pengungsian dengan tangan tengadah. Aku kembali dengan wajah muram. Aku merasakan sesuatu yang tidak dapat aku pahami. Ibuku waktu itu sedang duduk-duduk dengan beberapa perempuan lain. Aku pun mendekati ibu layaknya sebuah tempat perlindungan.

Ibu bertanya: “Kamu kenapa?”

“Mereka menyerahkan senjata, bu.”

Seperti ibumu yang memberimu jawaban ya, ibuku juga memberiku jawaban ya. Semua diam. Sesuatu seperti jatuh. Di bawah tatapan matanya yang cerdik ia melihatku menangis.

Pada hari itulah aku kembali dilahirkan. Aku melihat para lelaki dengan pandangan yang tidak biasa. Hanya ibuku saja yang memandangku dengan cara yang tidak biasa.

Jangan percaya bahwa manusia itu tumbuh. Tidak. Ia dilahirkan secara tiba-tiba. Sebuah kata yang memiliki letupan baru menembus dadanya seketika. Hanya dalam satu adegan ia sudah terbang dari langit-langit masa kanak-kanak menuju jalan ke neraka.

Seperti kata ya yang pedih itu melahirkanku, kata ya yang lain juga melahirkanmu kembali. Aku bisa mendengar bagaimana kamu menyambutnya dengan jalinan sel seorang manusia yang terpancar dari alam antah barantah menuju alam yang antah barantah pula, dalam alunan suara yang selalu membuatmu terperangkap.

Apakah pertanyaanmu itu, seperti pertanyaanku dahulu, hanya bersifat keingintahuan sebagai seorang bocah ataukah sudah takdirmu sebagai laki-laki?

Ah, itu tidak penting.

=========================================================

Sastrawan yang bernama lengkap Ghassan Fayiz Kanafani ini dilahirkan di Yafa (Palestina) pada 9 April 1936. Di samping sebagai sastrawan ia juga dikenal sebagai jurnalis. Hidupnya banyak ia habiskan di pengungsian dan meninggal pada 8 Juli 1973 dalam usia 36 tahun di Beirut. Ia meninggal dalam serangan sebuah bom mobil yang tragis di depan rumahnya.

Cerpen ini telah dimuat di Riau Pos edisi Minggu, 13 Juli 2008

Diterjemahkan oleh: Misran

Read more...

Tanah yang Ditinggalkan

Ghassan Kanafani (Palestina)

Saat meninggalkan Java menuju Akka, aku tak merasa sedih. Hanya seperti pindah dari satu kota ke kota lain untuk berlibur. Dalam beberapa hari, tak ada hal-hal sedih yang terjadi. Aku senang karena tak perlu ke sekolah. Banyak hal mulai terlihat berbeda setelah Akka diserang tentara Israel.

Itu malam yang berat untuk kita. Para perempuan berdoa, para lelaki terdiam dan resah. Kamu, aku, dan anak-anak lain tak paham apa yang terjadi, tapi pada malam itulah cerita demi cerita mulai terangkai.

Tentara Israel pergi dengan membekaskan ancaman dan sumpah serapah. Sebuah mobil besar berhenti di depan rumah kami dan barang-barang, termasuk kasur dan selimut dilemparkan ke dalamnya. Aku berdiri membelakangi dinding rumah tua itu saat melihat ibumu naik mobil itu, disusul adik ibumu, dan adik-adikmu yang lain. Kamu digendong ayahmu dan meletakkanmu di atas barang-barang milik keluargamu. Dengan cara yang sama ayahmu menggendongku di pundaknya. Aku diletakkan dalam kotak besi di atas mobil van itu. Di sana ada kakakmu, Riad, duduk membisu. Belum juga aku duduk dengan benar, roda mobil telah berputar. Kulihat dari jalan menanjak dan berkelok-kelok Akka semakin kecil kemudian hilang. Kami menuju Ra’ss-Ennakoura, perbatasan Libanon dan Palestina.

Langit saat itu mendung dan aku kedinginan. Riad yang masih membisu menaikkan kedua kaki ke atas kotak dan merapat ke perangkat di dekatnya. Kepalanya menengadah. Aku juga membisu seraya memeluk lutut dan menempelkan daguku. Sepanjang jalan banyak sekali pohon jeruk. Rasa takut dan kecemasan menyergap setiap orang. Mobil kami melewati tanah basah dengan susah payah. Dari kejauhan terdengar suara letusan-letusan senjata bagai ucapan perpisahan.
*
Kami sampai di Ra’ss-Ennkoura. Mobil kami berhenti. Para perempuan turun lalu menemui para petani yang meratap seraya berjongkok di depan keranjang jeruk mereka. Aku baru tahu kalau buah-buahan besar berwarna oranye itu sangat berarti bagi mereka, dan juga kami. Para perempuan membeli jeruk kemudian naik kembali ke mobil. Ayahmu berpindah tempat dari sisi supir untuk meraih sebutir jeruk dan menatapnya. Tiba-tiba dia menangis pilu seperti anak kecil.

Di Ra’ss-Ennakoura mobil kami berhenti di antara begitu banyak mobil. Semua jenis senjata diserahkan pada polisi yang tengah bertugas. Saat giliran kami tiba sudah banyak senjata menumpuk di atas meja. Di belakang kami terlihat antrian panjang kendaraan besar yang hendak meninggalkan tanah oranye nun jauh menuju Libanon. Aku lebih dulu menangis meraung-raung. Ibumu masih juga menatap jeruk tanpa berkata apa-apa. Dalam sorot mata ayahmu ada tersimpan bayangan pohon-pohon jeruk yang terpaksa ditinggalkan untuk bangsa Israel. Semua pepohonan yang ditanamnya satu persatu terlintas di wajahnya. Sulit baginya menghentikan tangisan saat menghadap petugas. Kami adalah pengungsi di Saida, sebuah kota di Libanon Selatan.
*
Perjalanan merampas waktu yang kita miliki. Tiba-tiba ayahmu menjadi lebih tua seolah lama tak tidur. Dia berdiri di antara barang bawaan yang telah dipindahkan ke sisi jalan. Kalau aku ingin berkata sesuatu dia akan langsung memakiku dan ayahku tanpa menahannya. Aku yang dididik di sekolah konservatif Katolik meragukan Tuhan akan meringankan bebannya. Aku ragu Tuhan Maha Melihat dan Mendengar. Di semua gambar berwarna yang melukiskan betapa Dia mencintai dan tersenyum untuk anak-anak sama seperti kebohongan yang dibuat pihak pembangun sekolah demi meraup keuntungan sebesar-besarnya. Aku yakin Tuhan meninggalkan Palestina lalu mengungsi ke tempat lain di dunia ini. Tak mampu menyelesaikan masalah-Nya sendiri. Dan para pengungsi seperti kami duduk di jalan setapak menunggu suratan takdir. Kami harus menemukan jalan keluar sendiri dari kepala kami sendiri. Penderitaan pun mulai merayap ke dalam kepala bocah ingusan.

Malam yang menakutkan pun datang. Aku ingin bermalam di trotoar, memenuhi jiwaku dengan mimpi-mipi buruk tanpa dicegah siapa pun. Aku tak menemukan tempat bersandar. Kebisuan ayahmu semakin menakutkan dan jeruk-jeruk dalam genggaman tangan ibumu serasa membakar dadaku. Setiap orang menatap jalan yang gelap seraya berharap ada jalan keluar yang akan membawa kami pada sebuah kepastian. Kedatangan pamanmu beberapa hari lebih awal adalah jawabannya.
*
Pamanmu bukan siapa-siapa saat menemukan dirinya tak terurus di jalan. Dia mendatangi sebuah keluarga Yahudi, membuka pintu kemudian memporak-porandakan seisi ruangan lalu menangis di hadapan mereka, “Pergilah ke Palestina.” Tapi keluarga itu tak menurutinya meski takut dengan sikapnya. Mereka hanya pergi ke ruangan lain dan meneruskan hidup. Pamanmu menunjukkan ruangan tempat kami tinggal berdesak-desakan dengan keluarga dan barang-barangnya. Kami tidur di lantai berselimutkan mantel. Pagi harinya kami terbangun dan melihat para lelaki masih duduk di kursi. Lalu tragedi mulai menyergap kami.

Kami tak tinggal lama di Saida. Kamar pamanmu terlalu sempit bahkan untuk setengah anggota keluarga kami. Paling tidak, selama 3 hari kami di sana. Ibumu menyuruh ayahmu mencari pekerjaan atau kembali ke ladang jeruk. Ayahmu menangis lagi. Bergetar suaranya sambil marah. Masalah demi masalah dimulai. Kebahagiaan, ikatan keluarga yang erat, tinggal di sana dengan pohon-pohon jeruk, rumah lama, dan para pejuang. Entah darimana ayahmu mendapat uang. Aku tahu dia menjual perhiasan ibumu yang menjadi kebanggaan buatnya dan kebahagiaan ibumu. Tapi perhiasan saja tak bisa menyelesaikan masalah, harusnya ada yang lain. Sudahkah ayahmu membawa uang? Sudahkah dia jual semua harta tanpa sepengetahuan kami? Entahlah. Tapi aku ingat kita pindah ke pinggiran Saida. Di sana ayahmu duduk di atas batu yang tinggi dan tersenyum untuk pertama kalinya. Dia menunggu sampai tanggal 16 Mei untuk kembali dengan tentara yang menang.
*
Tanggal yang dinanti-nantikan telah tiba. Tepatnya pukul 12 dia membangunkanku dengan kakinya dan berkata dengan suara menggelegar “Bangun! Lihatlah pasukan Arab memasuki Palestina!” Aku terjaga dalam hiruk-pikuk dan kami berlari bertelanjang kaki sepanjang bukit di tengah malam hingga mencapai jalan satu kilometer jauhnya dari perkampungan. Kami semua berlari terengah-engah seperti tak punya akal. Cahaya lampu terlihat menyorot kami dari kejauhan dari arah Ra’ss-Ennakoura. Saat mencapai jalan utama, kami kedinginan tapi teriakan keras ayahmu mengusirnya begitu saja. Dia berlari menyambut mobil-mobil itu seperti anak kecil. Tangannya melambai dan suaranya terdengar putus-putus karena belum mengambil nafas. Dia tetap berlari. Kami pun melakukan hal yang sama. Dari balik helmet para prajurit itu melihat kami tanpa bereaksi apa-apa. Kami semua kekelahan tapi ayahmu yang telah berusia 55 tahun tetap saja berlari. Dia melemparkan rokok kepada para tentara dan kami masih mengikutinya seperti kumpulan kambing

Arak-arakan mobil hilang begitu saja lalu kami kembali dengan keadaan lelah dan kehabisan nafas. Ayahmu hanya membisu. Ketika cahaya mobil mengenai wajahnya, pipinya basah.

Setelah hari itu, hidup berputar dengan lambat. Kami yang tertipu dengan pengumuman itu kembali terhanyut dalam kenyataan pahit. Suram kembali muncul di hadapan. Ayahmu menyadari sulitnya membahas tentang Palestina atau hari-hari menyenangkan di ladang jeruk maupun di rumah. Kami adalah penahan kesedihannya dan paham makna di balik seruannya “Pergilah ke bukit dan jangan kembali sebelum tengah hari.” Itu caranya mengalihkan kami agar tak meminta sarapan.
*
Keadaan memburuk. Satu isu kecil sanggup memicu kemarahan ayahmu. Aku ingat ketika salah satu dari kita bertanya sesuatu dan dia langsung terlonjak kaget bagai tersengat listrik lalu mengalihkan pandangan dari kami. Sebuah ide konyol mengganggu pikirannya. Dia seolah menemukan jawaban atas dilemanya. Di luar perkiraan bahwa dia cukup kuat mengakhiri kesedihan, di luar perkiraan ketakutan mendatangkan musibah. Dia mulai meracau. Membalikkan badan seolah mencari sesuatu yang tak bisa kami lihat. Melompat ke dalam kotak yang dibawa dari Akka lalu mengacak-cak isinya dengan histeris.

Suatu ketika, ibumu dengan nalurinya mendorong kami keluar dari rumah dan menyuruh kami berlari di bukit. Kami hanya diam di dekat jendela dan menguping. Kami mendengar ayahmu berkata “Aku ingin menghabisi mereka lalu diriku sendiri. Aku ingin..ingin..mengakhirinya.”

Kami mengintip dari celah pintu lalu melihat ayahmu berbaring di atas lantai dengan nafas berat seraya menggeretakkan giginya. Ibumu melihat dari jauh dengan raut wajah takut. Awalnya aku tak tahu apa yang terjadi. Aku ingat begitu melihat pistol hitam di sisinya. Aku berlari sekencang-kencangnya seperti habis melihat hantu yang tiba-tiba muncul. Aku berlari ke bukit sejauh-jauhnya dari rumah. Kemudian kusadari aku telah jauh dari rumah dan jauh dari masa kanak-kanakku. Aku menyadari hidupku tak lagi sama. Tak ada yang mudah dan hidup bukan sesuatu yang mudah dicari.

Keadaan telah sampai pada pilihan yang ditawarkan seorang ayah pada anak-anaknya untuk diakhiri dengan satu tembakan di kepala. Mulai dari sekarang, berhati-hatilah melangkah, jaga sikap, dan dengarkan keluhan ayahmu. Jangan meminta makanan selapar apapun perutmu. Tunjukkan kepatuhan dengan mengangguk dan tersenyum ketika ayahmu berteriak “Pergilah ke bukit dan jangan kembali sampai siang nanti.” Di malam hari ayahmu masih gemetar karena demam. Ibumu ada di sisinya. Mata kami menyala-nyala seperti mata kucing dalam kegelapan. Bibir kami terkunci seakan tak pernah terbuka jika masih ada bekas luka lama.
*
Kami berbondong-bondong meninggalkan masa kanak-kanak jauh dari ladang jeruk. Kata seorang petani, jeruk akan mati jika ada orang asing menyiram pohonnya. Ayahmu masih terbaring sakit di atas tempat tidurnya. Air mata ibumu tak pernah berhenti menetes. Aku menyelinap masuk seperti penjahat. Saat melihat wajah ayahmu bergetar marah, kulihat juga pistol hitam yang sama tergeletak dekat sebutir jeruk di atas meja.

Read more...

Nyonya Iqbal

Oleh:
Mahmud Taymur
(Mesir)

Umi Labiba masuk ke dalam kamar majikannya untuk menemui Nyonya Iqbal. Dia mengatakan bahwa si kusir kereta masih menunggu upahnya di depan rumah. Dahi Nyonya Iqbal berkerut. Disuruhnya Umi Labiba mengatakan pada si kusir supaya kembali lagi sore nanti. Umi Labiba beranjak dengan perasaan sedikit cemas. Dia berharap berhasil meyakinkan laki-laki itu agar menuruti kemauan majikannya.
Begitu mereka berhadapan, laki-laki itu menyambutnya dengan kata-kata kasar dan sikap kesal. Umi Labiba langsung menyampaikan pesan majikannya. Si kusir bertambah gusar dengan mulai mengutuk dan menyumpahinya. Kusir kereta itu sangat marah dan merasa berhak melakukannya. Enam kali sudah didengarnya Nyonya Iqbal mengunjungi "teman-teman dekatnya." Jumlah utang nyonya itu kini mencapai 300 piaster. Sampai hari ini dia belum membayar satu piaster sekalipun. Kusir kereta kuda itu memiliki seorang istri dan anak yang tak pernah memperoleh makanan dan pakaian yang layak. Sangat wajar jika ia marah. Sudah enam kali datang dia hanya disambut dengan janji belaka.

Laki-laki itu pun berlalu seraya terus berteriak mengumpat yang terdengar sampai ke seisi rumah. Ia mengingatkan sore nanti seluruh upahnya harus dibayar. Di dalam kamarnya, Nyonya Iqbal tak mempedulikan segala sesuatu yang terjadi di sekelilingnya. Ia bercermin kemudian mengikat rambutnya. Dia mencari kotak kosmetik kemudian mulai memoles wajah keriputnya.


Nyonya Iqbal berumur 38 tahun. Di masa muda dia seorang gadis yang memiliki dua hal penting, kecantikan dan tata krama. Di usia 18 tahun perempuan itu menikah dengan seorang penjudi serta pemabuk. Selama delapan tahun mereka tinggal bersama. Setelah itu Nyonya Iqbal ditinggalkan suaminya yang semakin tenggelam dengan kebiasaan buruknya. Menginjak usia 20 tahun dia resmi menjadi janda. Hingga akhir hayat, suaminya hanya mewariskan seluruh kebiasaan buruk saja. Nyonya Iqbal ikut terlibat pada hal-hal mesum dan tak bermoral. Saat masih belia, sang suami membawanya ke dalam kesenangan semu, bahkan dengan sengaja menjerumuskannya pada kebusukan. Laki-laki itu membujuknya, lebih tepat mengubahnya menjadi seorang pemabuk dan pecandu obat-obatan terlarang. Dia juga menawarkan tubuh sang istri pada teman-temannya.

Suami Nyonya Iqbal meninggal dengan mewariskan penderitaan yang sempurna pada perempuan muda ini. Dia juga membekaskan kesedihan, rasa malu, serta penyakit dalam tubuh istrinya. Baru berusia 38 tahun Nyonya Iqbal sudah terlihat setua perempuan berusia 58 tahun. Tubuhnya kurus. Wajahnya terlihat muram. Kulitnya kuning pucat. Penderitaannya terpancar pada kantong di bawah kedua matanya. Gadis yang dulu cantik mempesona telah berubah menjadi seorang penjudi tua dan sakit-sakitan. Kecanduan semua jenis minuman dan obat-obatan, seperti alkohol dan kokain.

Nyonya Iqbal memiliki seorang anak berusia tujuh tahun. Tak jelas siapa ayahnya, tapi jelas dia dibesarkan di tengah penderitaan dan melewati masa kecil di lingkungan yang bejat.

Nyonya Iqbal benar-benar putus asa. Kecantikannya telah luntur sampai setiap lelaki tak menginginkannya. Hari demi hari, bahkan jam demi jam dia hanya memejamkan mata menanti masa depan.

Sore harinya, kusir kereta itu datang kembali. Masih juga dia berjalan sambil meneriakkan utang yang belum dibayar, tapi tak ada yang mau peduli. Dia meninggalkan keretanya di suatu tempat yang memisahkan taman kecil dan pintu rumah. Dia menggedor-gedor pintu rumah Nyonya Iqbal seraya berteriak marah. Nyonya Iqbal berada di kamarnya dan merias diri. Dia mengenakan gaun malam transparan yang tersisa dari jaman keemasannya. Rambutnya dibiarkan tergerai. Kakinya tanpa alas kaki. Payudaranya nampak menonjol layu dari belahan rendah gaunnya.

Nyonya Iqbal mendengar teriakan kusir kereta itu. Dia hanya tersenyum dan mengacuhkannya. Umi Labiba masuk lalu berkata bahwa laki-laki itu berusaha mengacaukan ketenangan "Harem" ini dengan sumpah serapahnya. Nyonya Iqbal menjawab pelan, “Kau ingin aku melakukan apa? Aku tak punya uang sepeser pun."

Kusir kereta itu berhasil mendobrak pintu dan menyerbu masuk ke dalam harem suci. Ia masuk ke ruang tamu sambil meneriakkan tagihannya. Umi Labiba tergesa menghampiri dan memaki kenekatan kusir itu. Dia berusaha menghentikan langkah lelaki itu dan hendak mengusirnya pergi. Hampir lima belas menit keduanya saling mencaci-maki. Akhirnya si pelayan yakin tak mungkin menghentikan kehendak laki-laki itu. Dia pun berteriak mencari pertolongan majikannya.

Seketika itu pula pintu kamar Nyonya Iqbal terbuka. Dia berdiri di sana mengenakan gaun malam tipis serta bertelanjang kaki. Masih juga dia bertanya dengan polosnya. "Apa yang terjadi, Umi Labiba?"
Kusir kereta itu tak mau memberi kesempatan Umi Labiba menjawab pertanyaan majikannya. Dengan gusar dia memperingatkan Nyonya Iqbal agar segera melunasi utang-utangnya. Dengan suara lembut tanpa rasa bersalah dia menjawab, "O, kenapa harus melakukan semua ini? Kemarilah, ini ambil upahmu." Kusir kereta itu terperanjat. Dia menatap perempuan itu dengan tajam. Dalam hati dia berusaha menebak-nebak kebenaran ucapan barusan.

Nyonya Iqbal menangkap kegamangan laki-laki itu. Dia mendekat lalu menggandeng pria itu. Akan dibawanya masuk ke dalam kamarnya. Si kusir semakin heran dan tak tahu apa yang harus dilakukannya. Nyonya Iqbal kembali berkata, "Kemarilah, ambil upahmu. Kenapa tak mau masuk? Orang asingkah kau?”

Kusir bernama Sahatta itu pun ikut masuk ke dalam kamar. Nyonya Iqbal menggenggam tangannya lebih erat. Menuntunnya seperti seorang tahanan. Sahata telah berusia 58 tahun, tapi seumur hidup tak pernah belajar apa pun selain mengendarai kereta. Awalnya dia bekerja dan tinggal di sebuah istal. Menyapu lantai, membersihkan kotoran, mencuci kereta, serta memandikan kuda-kudanya. Kemudian dia dipromosikan sebagai kusir yang bisa duduk di kursi kereta yang tinggi, mengenakan jas, serta jaket yang mirip seragam para pedagang. Penghasilannya dari mengendarai kereta kuda tak pernah cukup untuk makan istri dan kelima anaknya. Istrinya yang sakit-sakitan tak bisa memperoleh perawatan memadai.


Sahatta berkulit gelap, berjenggot kelabu yang dicukur hanya saat memiliki cukup uang. Dari perawakan sampai pakaiannya lusuh. Jari-jari kakinya mengintip dari ujung sepatu yang berlubang. Celananya dikencangkan dengan selendang merah yang lusuh. Kepalanya memakai tarbus berhias pita hitam tanpa kancing. Meski tanda-tanda kemiskinan meliputi seluruh pikiran sampai pakaiannya, Sahatta masih percaya dengan “keberuntungan” dan sekuat tenaga akan diwujudkannya.


Ketika duduk di kursi kusir, kau bisa mendengarnya menyenandungkan lagu-lagu cinta atau nyanyian-nyanyian jenaka. Ketika seorang wanita cantik satu kasta melintas di depan keretanya, serta-merta Sahatta mengangkat tarbus dan menggoyangkan sepatu compang-campingnya. Tak lupa tersenyum disertai lirikan nakal lalu berseru, “Manisku! Manisku! Jangan cepat-cepat! Hatiku terbakar!”


Dia sering juga melihat para wanita kelas tinggi mengenakan kerudung hitam tipis atau barqa tipis yang menampakkan raut wajah mereka. Dia akan menatap mereka dengan genit, sembari berbisik, “Tak akan ada yang kusisakan...”


Jika penumpangnya sepasang kekasih yang tengah kasmaran. Sahatta bisa mendengar suara bisikan, ciuman, atau gerakan sepasang kekasih yang tengah bercinta. Gairahnya pun bangkit tapi satu sisi dia merutuki keadaan istrinya. Sahatta merasakan gejolaknya berkobar-kobar, tapi tak tempat ada pelampiasan. Hanya ada kuda-kuda kurus yang lelah. Alhasil dia menghujani mereka dengan cambukan dan sumpah serapah.


Sahata memasuki kamar tanpa kunjung tahu maksud perempuan itu. Apakah Nyonya Iqbal serius atau tidak. Sahata mencium wangi bedak dan parfum memenuhi ruangan itu. Kegelisahannya memudar. Matanya kehilangan pendar iblisnya. Dia mulai mengamati tubuh perempuan itu saat mondar-mandir mencari kunci kotak penyimpanan uang. Perempuan itu membuka kotak lalu mengosongkan isinya sebagai bayaran yang dijanjikan. Sahata menatapnya penuh nafsu. Dia tertawa lebar menampakkan kebinatangannya.


Sahata belum pernah berada dalam satu ruangan dengan seorang wanita putih berkelas borjuis aristokrat apalagi mendapatinya hanya dengan busana tipis. Satu-satunya perempuan tak lain istrinya sendiri yang pincang. Kulitnya berwarna coklat, temperamental, berbaju biru lusuh, dan kerudung koyak warna hitam. Apa pernah dia melihat seorang wanita ramping yang lekuk-lekuk tubuhnya hanya terbungkus gaun malam tipis? Menampakkan sepasang kaki ramping nan lembut. Kulit putih kemerah-merahan. Raut wajah rupawan, dan mata yang memikat. Sepanjang hidup tak pernah dia menyaksikan kaki semacam itu. Poni yang jatuh di kening. Payudara yang begitu menonjol.


Pada saat itu, Sahata tidak melihat Nyonya Iqbal seperti hari-hari sebelumnya. Bertubuh kurus, berwajah pucat, dan mata lebam yang selalu tersamar bedak. Ditambah lagi senang melontarkan bujuk rayu menggoda. Sosok di hadapannya sekarang adalah gadis impiannya. Gadis berkulit putih yang menyembunyikan parasnya di bawah kerudung hitam transparan atau barqa putih yang tipis. Serupa dengan gadis di kereta yang terdengar tawanya dengan pinggul bergoyang dan desahan bernada suara merdu memikat melengkapi kesedihannya. Nyonya Iqbal mendekatinya lalu berkata dengan lembut, “Hari ini aku tak punya uang. Bisakah kau kembali besok?”


Dia menatap Sahatta dengan memelas dan genit merayu. Sahata menangkap maksud perempuan itu lalu menyahut, “Aku tidak akan meninggalkan tempat ini, nyonya. Seperti kata pepatah, “Merpati tak pernah masuk lewat jalan yang sama dengan jalan keluarnya.”
Nyonya Iqbal tersenyum. Dia tahu apa yang ada di benak laki-laki itu. Dengan cepat dia menjatuhkan diri ke dalam pelukan Sahatta tanpa mempedulikan kelusuhan dan bau lelaki itu. Dia mencium bibir lelaki itu dengan ciuman memabukkan seolah sanggup membuat Sahatta pingsan.

Jamal, putra Madam Iqbal yang baru tujuh tahun usianya, pulang ke rumah. Dari lubang kunci dia mengintip ke dalam kamar ibunya lalu terbahak-bahak. Dia berlari dan berpapasan dengan Umi Labiba. Kepalanya mendekat pada pelayannya itu. Dengan suara kekanakan dia membisikkan rahasia di dalam kamar ibunya. Rahasia tentang penghapusan utang sang kusir dengan mengagumkan dan mudah.

Read more...